PNEUMONIA

September 12, 2008

Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstisiil, penyebab kematian utama iSPA pada balita.

Etiologi

Pneumonia umumnya disebabkan oleh bakteri, yang tersering yaitu Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Pada bayi dan anak kecil Staphylococcus aureus sebagai penyebab pneumonia. Pneumonia stafilokokus merupakan infeksi berat, serius dan sangat progresif dan dengan mortalitas yang tinggi. Mycoplasma pneumoniae sering dilaporkan sebagai salah satu penyebab pneumonia pada anak besar.           Bakteri lain sebagai penyebab    pneumonia adalah Streptococcus grup B, Streptococcus grup A, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, Chlamydia trachomatis, bakteri anaerob, Legionella pneumophila, Neisseria meningitides, basil enterik gram negatif dan lain-lain.

Diagnosis

Anamnesis

Pasien biasanya mengalami demam dapat  tinggi, batuk, gelisah, rewel, dan sesak napas. Pada bayi gejalanya tidak khas, seringkali tanpa demam dan batuk. Pada anak besar kadang mengeluh nyeri kepala, nyeri abdomen disertai muntah.

Pemeriksaan fisis

Manifestasi klinis yang terjadi akan berbeda-beda berdasarkan kelompok umur tertentu. Pada neonatus sering dijumpai takipneu, retraksi dinding dada grunting dan sianosis. Pada bayi-bayi yang lebih tua jarang ditemukan grunting. Gejala yang sering terlihat adalah takipneu, retraksi, sianosis, dengan batuk, panas, dan iritabel. Pada anak pra sekolah, gejala yang sering terjadi adalah demam, batuk (non produktif/ produktif), takipneu, dan dispneu yang ditandai dengan retraksi dinding dada. Kelompok anak sekolah dan remaja, dijumpai panas, batuk (non produktif / produktif), nyeri dada, nyeri kepala, dehidrasi dan letargi merupakan gejala yang sering nampak pada kelompok umur ini. Pada senua kelompok umur, akan dijumpai adanya napas cuping hidung.  Pada auskultasi dapat terdengar suara pernapasan meningkat konsolidasi padat dan meliputi lobus paru, fine crackles (ronki basah halus?) yang khas pada anak besar, bisa tidak ditemukan pada bayi. Gejala lain pada anak besar berupa dull (redup) pada perkusi vokal fremitus meningkat, meningkatnya suara napas dan terdengar fine crackles (ronki basah halus?) di daerah yang terkena. Iritasi pleura akan mengakibatkan nyeri dada, bila berat gerakan dada menurun waktu inspirasi, anak berbaring ke arah yang sakit dengan kaki fleksi. Rasa nyeri dapat menjalar ke leher dan bahu dan perut. Dua tanda sederhana yang cukup penting untuk mencurigai pneumonia yaitu napas cepat dan adanya tarikan dinding dada.

Pemeriksaan penunjang

Foto Rontgen toraks PA merupakan dasar diagnosis utama pada pneumonia. Foto lateral dibuat bila diperlukan informasi tambahan, misalnya efusi pleura. Pada bayi dan anak yang kecil gambaran radiologi seringkali tidak sesuai dengan gambaran klinis. Tidak jarang klinis tidak ditemukan apa-apa tetapi gambaran foto torak pneumonia berat. Gambaran radiologis yang klasik dapat ditemukan yaitu konsolidasi lobar atau segmental, disertai adanya air bronchogram.  corakan bronhovaskular bertambah, peribronchial cuffing, dan overaeriation; inflitrat.

Laboratorium

Hasil pemeriksaan lekosit dapat meningkat, dengan dominasi netrofil sering didapatkan pada pneumobnia bakteri, namun tidak selalu,  dapat pula karena non-bakteria. Begitu pula laju endap darah (LED) dan C reaktif protein tidak khas.

Terapi

Medikamentosa

Diagnosis etiologik pneumonia sangat sulit untuk dilakukan, sehingga pemberian antibiotik dilakukan secara empirik sesuai dengan pola kuman tersering yaitu Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae.

Pemberian antibiotik sesuai dengan kelompok umur. Untuk bayi di bawah 3 bulan diberikan golongan penisilin dan aminoglikosida. Untuk usia >3 bulan, ampisilin dipadu dengan kloramfenikol merupakan obat pilihan pertama.  Bila keadaan pasien berat atau ada empiema, antibiotik pilihan adalah golongan sefalosporin.

Antibiotik parenteral diberikan sampai 48 –72 jam panas turun, dilanjutkan dengan oral 7 – 10 hari. Bila dalam 48-72 jam tidak ada respons klinis (sesak dan demam tidak membaik ), lakukan penggantian antibiotik dengan golongan sefalosporin. Bila diduga penyebabnya S aureus dapat segera diberikan kloksasilin. Bila alergi terhadap penisilin dapat diberikan cefazolin, klindamisin, atau vancomycin. Pengobatan untuk stafilokok lamanya 3–4 minggu.

Pemberian oksigen sesuai derajat sesaknya. Nutrisi parenteral diberikan selama pasien masih sesak.

BRONKIOLITIS

September 12, 2008

Bronkiolitis adalah  peradangan di bronkiolus. Merupakan penyakit yang sering didapatkan pada anak usia kurang dari 2 tahun. Selain itu juga merupakan penyebab tersering perawatan rumah sakit pada bayi dibawah 1 tahun, lebih sering   usia  2- 6 bulan.

Etiologi

Penyebab utama adalah Respiratory Syncytial Virus (75%). Penyebab lain yang telah diketahui adalah adenovirus, virus parainfluenza, rhinovirus, dan Mycoplasma pneumoniae.

Diagnosis

Anamnesis

Anak menunjukkan gejala infeksi virus seperti rinore ringan, batuk, demam  tidak tinggi. Setelah 1 – 2 hari gejala tersebut diikuti  napas cepat, retraksi dada dan wheezing. Bayi menjadi gelisah, tidak mau makan dan muntah.

Pemeriksaan fisis

Frekuensi napas meningkat, denyut nadi juga biasanya meningkat. Suhu badan bisa normal atau meningkat sampai tinggi mencapai 41 derajat C.  Pada beberapa pasien dapat ditemukan konyungtivitis, otitis, faringitis, tampak retraksi dada.  Seringkali didapatkan ekspirasi memanjang, tetapi suara pernapasan normal. Pada auskultasi bisa terdengar ronki, wheezing, ekspirium diperpanjang,  bisa didapatkan sianosis.

Pemeriksaan penunjang

Radiologi

Gambaran radiologi bronkiolitis tidak spesifik, bisa normal atau  terdapat hiperinflasi paru-paru difus disertai diafragma datar, penonjolan ruang retrosternal, dan menonjolnya rongga interkostal. infiltrat peribronhial menandakan adanya penumonia interstisial pada kebanyakan bayi. Penebalan dan cairan pleura sangat jarang ditemukan, bila ada minimal.  Beberapa anak secara klinis berat dan perlu perawatan tetapi foto torak-nya normal. Jadi gambaran yang bisa didapatkan adalah normal, penebalan peribronhial, atelektasis, kolaps segmental, atau hiperinflasi.

Analisis gas darah, dapat  ditemukan asidosis, hipoksemia, PCO2 bisa normal, turun atau meningkat.tentu. Pemeriksaan laboratorium rutin tidak spesifik, jumlah lekosit bisa rendah, normal atau meningkat.

Terapi
Medikamentosa

Bronhiolitis ringan bisa dirawat di rumah, untuk bayi perlu dilakukan observasi yang baik dan pemberian cairan yang cukup. Bila bayi menderita bronhiolitis sedang atau berat harus dirawat di RS.

Antibiotika tidak selalu diberikan, namun bila diperkirakan perlu misalnya pada keadaan yang berat dan ditakutkan infeksi sekumder bakteri dapat diberikan antibiotika yang sesuai.

Peran bronhodilator dan beta-a gonis, pada bronkiolitis yang berat cukup bukti pemberian Beta-2 agonis (salbutamol) adamanfaatnya. Obat ini dapat dicoba diberikan, bila  ada respons obat diteruskan.

Pemberian kortikosdteroid  juga belum dapat dibuktikan bermanfaat. Laporan penelitian menunjukkan ada yang berhasil baik namun ada pula yang tidak berpengaruh.

Suportif

Pemberian oksigen lembab, monitor kemungkinan hipoksemia, apnu, dan gagal nafas, memonitor suhu tubuh, dan memberikan cairan sesuai kebutuhan.

Bronkitis Akut

September 12, 2008

Pengertian

Bronkitis akut adalah peradangan akut pada bronkus dan cabang-cabangnya, yang mengakibatkan terjadinya edema dan pembentukan mukus. Walaupun diagnosis bronkitis sering merupakan diagnosis yang sering  dibuat,  pada anak keadaan ini agaknya bukan merupakan  suatu penyakit tersendiri tetapi  merupakan akibat  dari beberapa keadaan lain pada saluran napas atas dan bawah. Manifefstasi klinis biasanya terjadi akut mengikuti suatu infeksi saluran napas atas.

 

Etiologi

Bronkitis berhubungan dengan infeksi virus, bakteri sekunder, polusi udara, alergi, aspirasi kronis, refluks gastroesophageal, dan infeksi jamur. Virus merupakan penyebab tersering bronkitis (90%), sedangkan sisanya (10%) oleh bakteri. Virus penyebab yang sering yaitu  yaitu virus Influenza A dan B, Parainfluenza, Respiratory Syncitial Virus (RSV), Rinovirus, adenovirus dan corona virus. Bronkitis akut karena bakteri  biasanya dikaitkan dengan Mycoplasma pneumoniae, Mycobacterium tuberculosis, Bordatella pertusis, Corynebacterium diphteriae, Clamidia pneumonia,  Streptococcus pneumonia, Moraxella catarrhalis, H. influenza, Penyebab lain agen kimia ataupun pengaruh fisik.

Diagnosis

Manifestasi klinis

Anamnesis dapat ditemui adanya demam, nyeri kepala, nyeri otot selama 3-4 hari diikuti dengan batuk. Pada awalnya batuk bersifat kering dan keras, kemudioan berkembang menjadi batuk yang produktif, dahak bisa jernih atau pululen. Batuk biasanya berlangsung 7-10 hari, tetapi dapat juga berlangsung samnpai 3 minggu. Pada anakj Cecil,usa untuk emnegluarkan dahak yang lengket dan kental dapat merangsang muntah, pada anak ayang lebih tua keluhan utama dapat berupa batuyk produktif,, nyeri dada pada keadaan yang lebih berat. Pada umumnya gejala akan menghilang dalam 10-14 hari. Bila gejala dan tanda klinis menetap sampai 2-3 minggu,perla dicurigai adanya proses kronis atau terjadi infeksi bakteri sekunder.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik pada stadium awal biasanya tidak khas. Dapat ditemukan adanya demam, gejala rinitis sebagai manifestasi pengiring, atau faring hiperemis.Sejalan dengan perkembangan serta progresivitas batuk, pada auskultasi dada dapat terdengar ronki, wheezing, ekspirium diperpanjang atau tanda obstruksi lainnya. Bila lendir banyak dan tidak terlalu lengket akan terdengar ronki basah.

Pemeriksaan penunjang

Tidak ada pemeriksaan penunjang yang memberikan hasil definitif untuk diagnosis bronkitis. Pemeriksaan kultur dahak diperlukan bila etiologi bronkitis harus ditemukan untuk kepentingan terapi. Hal ini biasanya diperlukan pada bronkitis kronis. Pada bronkitis akut pemeriksaan ini tidak berarti banyak karena sebagian besar penyebabnya adalah virus.

Pemeriksaan radiologis biasanya normal atau tampak corakan bronkial meningkat.   Pada beberapa penderita menunjukkan adanya penurunan ringan uji fungsi paru. Akan tetapi uji ini tidak perlu dilakukan pada penderita yang sebelumnya sehat. Jika dicurigai adanya asma sebagai penyakit yang mendasari, uji fungsi paru perlu dipertimbangkan untuk dilakukan.

Terapi
Penderita tidak perlu dirawat inap kecuali ada indikasi seperti dehidrasi atau penyempitan bronkus yang berat.
Medikamentosa

Antibiotik tidak direkomendasikan secara rutin pada bronkitis akut, bahkan pemberian antibiotik dengan indikasi untuk pencegahan superinfeksi saluran napas bawah tidak memberikan keuntungan.

Bronkodilator agonis b2  seperti salbutamol dapat memberikan manfaat untuk mengatasi batuk, utamanya pada keadaan yang disertai dengan  tanda-tanda bronkokontriksi. Pemberian salbutamol dengan dosis 0,1 mg/kgBB/kali.akan mengurangi batuk dalam 7 hari, lebih baik dibandingkan pemberian antibiotik,

Analgesik & antipiretik bila diperlukan dapat  diberikan.

Pemberian antitusif tidak direkomendasikan, mukolitik, dan ekspektoran,walau belum cukup bukti klinis yang kuat, dapat dipertimbangkan diberikan bila batuknya efektif dan pada anak diatas 2 tahun.

Suportif

Terapi bronkitis akut sebagian besar bersifat suportif. Diperlukan istirahat dan asupan makanan  yang cukup, kelembaban udara yang cukup serta masukan cairan ditingkatkan.

Pemantauan
Anak-anak dengan bronkitis akut berulang harus dinilai secara seksama untuk menemukan kemungkinan adanya anomali-anomali pada saluran napas, benda asing, bronkiektasis, imunodefisiensi, tuberkulosis, alergi, sinusitis, tonsilitis, adenoiditis, serta fibrosis kistik.

Hello world!

September 12, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.